Rabu, 10 Desember 2008

yang tak terhenti


harumkan tanah kering di sebuah siang
hujan bawakan seranting keceriaan
awan tak mampu tutupi cerah langit dengan sempurna
sisakan bias biru-mendung
air mata yang ditunggu tak juga datang

hujan terhenti dengan kepayahan
biru kembali kuasai langit
tanah menghisap air dalam kehausan
sisakan gejolak yang belum teredam air mata

ibrahimpun sempat bimbang dalam keimanannya
jika harus mengorbankan anaknya
lalu apa yang kupertahankan
jika memang semuanya bermuara pada pengorbanan
tetapi mataku makin panas

semuanya tetap berjalan
sehingga bola dunia tetap berputar
semuanya harus terus saling menggesek
sehingga air temukan ruangnya
aku hanya ingin menangis

bukan sekedar air
bukan sekedar basah
air mata adalah ungkapan santun
muara sedih, perih, pasrah, ikhlas
bukan dendam, nafsu amarah

... karena dia tidak salah
... karena dia bukan dewa
... karena dia sekedar berjalan
... agar dia tidak marah

hujan boleh pergi
tanah boleh terbelah kering
magnet bumi boleh bergeser
jangan biarkan dia pergi
karena air mata takkan pernah jadi mutiara

Kamis, 06 November 2008

wangi aneh


sudahi
hanya kesudahan yang bisa menyembuhkan
jangan dimulai lagi
karena permulaan berarti pengulangan.
hitung
dan terkalah garis tangan
jika bisa membuatmu percaya diri.
saksikan yang tak pernah engkau saksikan
lihat
dan rasakan penderitaan yang bukan deritamu
jika bisa membuatmu pasrah.
belai kekasihmu
dan nyatakan sumpah darahmu
jika bisa melahirkan kesetiaan.
apa yang diharapkan dari sebuah kerusakan?
selain kehancuran, maka itu adalah kemungkaran.

Selasa, 04 November 2008

whatever

pagiku bukan milikmu. siangku bukan juga. soreku apalagi. malamku tak bertuan. jadi, "Telanlah ludahmu, mudah-mudahan bisa menyehatkanmu!"

Jumat, 31 Oktober 2008

gentayangan


ke belakang terbang melayang
jauh tinggalkan yang akan datang
tak peduli hari terang
kenangan harus terpampang
meski kau bisa menjadi baik
masa lalu terus tarik
dan kau boleh menjadi teman raga
aku tetap tak disini ada
bukan disini aku lahir
bukan disini aku hadir

Jumat, 24 Oktober 2008

BATIR gendu2 rasa


dunia telah mencoretnya.
organizer sejati, ... dia yang menolong saya. dalam perkenalan pertama, dia meminjamkan sebuah fotokopian (buku), yang judulnya saya lupa. buku itu berbicara ttg bagaimana cara kita mengajak ngobrol orang lain, masuk kepikiran mereka, menggugah kepedulian mereka, membuat mereka bersepakat dan berserikat, dan ujung-ujungnya adalah untuk sadar bergerak. perkenalan yang tak mengasyikkan ini kemudian berlanjut menjadi persahabatan yang berwarna : merah-hijau.
waktu yang bergerak mengantarkan kehancuran alam terus menggerus semua yang baik, apalagi yang samar. salah satu temannya, temanku pula, telah sukses keluar dari labirin pilihan ... menjadi pengumpul uang ... menghapus kepedulian terhadap lingkungan. sedangkan aku kemudian menjadi jongos miskin ... pemimpi aksi.

dunia telah menghukumnya.
tak bersua beberapa tahun. katanya, dia pernah melancong ke Jakarta untuk mencari kerja. tepat seperti dugaanku, sebulan kemudian dia dirumahkan karena terlalu percaya akan adanya hak-hak pekerja. kemudian, dia diterima lagi sebagai salesman di sebuah perusahaan pemasaran motor. ceritanya sama, dia dikeluarkan karena protes ttg upahnya. dia mengibaratkan pekerja jaman sekarang bagaikan sapi perah tanpa STNK. selain dipelihara untuk dimanfaatkan semaunya juga harus dibuat sedemikian rupa agar tidak dihargai sebagaimana motor yang lengkap surat2nya.
'kemana dia sekarang ... ?' pertanyaan yang ingin kucari jawabannya tatkala lebaran tiba. kabar itu terlalu cepat, karena aku sendiri belum hendak ke rumahnya, masih beramah tamah dengan orang tua dan saudara. sepupuku bercerita dengan diawali sebuah pertanyaan : 'apa bener kalau dia sudah .... ?' tunggu sebentar! (bentakku dalam hati). .. tidakkah kau paham, dia bukan sekedar teman? dia guruku. tidakkah kau mengerti bahwa dia terkuat? dia termasuk aktivis prd periode awal (yang dikejar2 soeharto). sepupuku seolah tak mengerti ... "bener, sudah lama katanya."

kurang waras? hanya kalian saja yang tak mengerti bahasa. kumatan? hanya kalian saja yang iri atas kegeniusannya, bukan? .... tapi kenapa bisa seperti ini???? dunia yang kejam harusnya tetap memberikan ruang (mekipun) sempit bagi para pemikir, bagi para organizer kaum pinggir-anti jilat. sobat ... guru ... maafkan. suatu saat yang entah kapan itu terjadi, aku harus sujud di kakimu ... dan menemanimu lagi.

Rabu, 20 Agustus 2008

TULUNG!

mau disebut apapun, terserah!
mau dianggap anak kecil, masa bodoh!
mau mencibir, monggo!
mau dilabeli irasional, sok!

aku mengharap keajaiban
... dia sembuh!

Selasa, 29 Juli 2008

mbajug!

kemudian semuanya mengeluh,

ketidakadilan mereka kuak
dengan tetap jentikkan kelingking kepadaku

selama yang bisa kau ingat
kapan dengar keluhku
selama yang kau bisa lihat
kapan ku membencimu

demi sebuah jawaban yang terancam kemunafikan
aku memang munafik
demi kemesraan yang semukan pahit hidup
aku tetap butuhkanmu

mengeluhlah dengan sempurna
retakkan langit putih tak berdosa
teriaklah sepuasmu semaumu
runtuhkan arca lingga-nya siwa
hanya satu pesan untukmu, sayang
’jangan di telingaku!’

Selasa, 08 Juli 2008

Kobeng 02


Serrr... bunyi gesekan rimbun daun pohon bambu sesekali diselingi bunyi derit batangnya yang bergesek. Tupai-tupai kecil meloncat lincah, seolah ingin pastikan bahwa ini adalah dunia mereka. Sang ibu tupai nyenyak tertidur di bantalan daun yang ia rangkai sedemikian indahnya, tak takut anaknya jatuh tergelincir atau tertembak pemburu. Tak ada pemburu. Manusia tak butuh protein dari tupai yang hanya ingin sekedar hidup...tak mengganggu. Siulan angin siang semakin mesra mencumbu rumpun-rumpun bambu yang tumbuh bebas di hampir seluruh halaman belakang penduduk desa. Tak perlu merawat rumpun-rumpun itu, biarkan saja dan jangan tamak, niscaya ia akan selalu memberikan segala apa yang dibutuhkan.
Jarak antar rumah adalah jalan. Tak ada pagar seperti di kota yang dibangun untuk menghalangi orang lain masuk atau sekedar melihat. Rumah dibangun bukan untuk sebuah pameran atau kontes sosial. Rumah bukan sesuatu yang haram dimasuki oleh orang lain, apalagi untuk bersantai melepas lelah. Rumah bukanlah tempat sembunyi dari kerja bhakti atau musyawarah. Tegur sapa akan selalu kita temui jika ada sebuah papasan yang sangat singkat sekalipun. Kebutuhan untuk saling bersapa adalah sesuatu yang kemudian dianggap sebagai sampah oleh masyarakat kota karena tak layak membuang waktu tanpa menghasilkan uang. Mungkin bagi mereka, uang hanyalah lembaran kertas yang kemudian disepakati bersama sebagai alat tukar, bukan sesuatu yang bisa membentak bahkan arogan melebihi presiden amerika serikat. Seolah mereka adalah masyarakat yang pernah mengenyam kejayaan sekian abad, mereka melakukan demistifikasi uang. Tak perlu uang untuk sekedar mendapatkan bambu, kayu, pasir, atau baju. Bayar SPP anak sekolah mereka bisa menggunakan beras, nangka, atau kejujuran.
Di sebuah siang yang terik, wangi panas pesisir semai keheningan. Tejo sudah bisa mengatasi keringatnya. Selepas shalat subuh tadi dia langsung mencangkul sawah hingga bengkek menyuruhnya berhenti. Musim hujan mudah-mudahan akan segera tiba. Jika saja bukan tahun yang buruk, sekarang adalah waktu panen. Tapi, tak layak mengeluh di sini. Tuhan adalah pengasih. Makan tak harus nasi. Bahkan hidup tak harus makan bukan?
Tuhan adalah pengatur yang santun. Akan selalu menghadirkan sesuatu yang lain kala menghentikan yang biasa. Bermandi keringat bukan hal yang jorok di sini. Engkau harus berkeringat, walau apa yang diharap jauh dari yang akan didapat. Walau, kemushilan selalu mengiringi keniscayaan. Bekerja bukan untuk sebuah gengsi atau atas nama kebutuhan yang akan selalu lebih. Bekerja adalah wujud eksistensi diri, dan obat jiwa atas segala penjara dunia. Sepoi angin hilir mudik tak bosan merayu Tejo untuk sekejap memicingkan mata. Toh, tak ada lagi yang harus dikerjakan karena tak ada yang memang mengharuskan. Ia memilih masuk ke dapur untuk menyeduh kopi. Kiranya hubungan kopi dan Tejo atau orang yang lain adalah sangat dekat dan mesra, beriringan membentuk rantai waktu indah diselingi lengkingan takdir yang seolah ajeg.
Kirno memanggil lantang, ” jo,.. kopi dong!”. Ia tak peduli kala Tejo tak menyahut karena kursi panjang dari bambu kuning menggodanya untuk merebah : luruskan punggung, alirkan sesuatu yang setengah harian tersumbat. Dengan sedikit menendang tangan kirno yang menghalangi pintu, Tejo keluar membawa dua gelas kopi hitam. Satu gelas, hitamnya begitu kelam, sedang satunya lagi sedikit kecoklatan. Kirno memang suka ngopi juga, tapi tak kental karena akan aneh jika dia tidak suka dengan kopi. Kemudian mereka asik melinting tembakau. Asap putih mengebul. Kedua hidung mereka bak cerobong asap, membentuk lengkungan yang tak pernah bosan naik walau berantakan. Memang tak perlu sebuah kesatuan, jika hanya ingin melakoni kodrat.
”Bagaimana halnya jika hujan tidak jadi turun?” tanya Jo berbarengan dengan keberhasilan kopi membuat otak kepyar.
”Lalu, apa yang bisa kita lakukan?”, tak kalah Kirno membulat-bulatkan asap rokok, ”Apakah engkau memimpikan Branjang Ratus yang mencuri payung kyai udan riwis dan mendatangkan hujan?”
”Hus, ndak baik melangkahi takdir”, semprot jo
”Lah, manungsa kan wajib ikhtiar, jo.”
”Sepakat. Tapi jangan sampai motong-motong sunnatullah”
”Tur ora nyandak, jo..jo. kaya penginyongan ukur bisa ngarep-arep thok.”
Perubahan adalah keniscayaan.
”Nderek langkung”, seorang nenek lewat.
”Mangga”, jawab mereka serempak, seserempak mereka menurunkan kaki mereka yang melintang ke teras.
”Beres, mbah?”, tanya Kirno sok tahu.
”Beres”, jawab nenek, ”Itu Warni sedang sangga uang sendirian” sembari telunjuknya mengarah ke kebelakang, tentu menunjuk ke arah rumah Warni.
Bukan sebab nenek itu tahu betul bahwa Tejo sangat menyukai Warni, namun lebih karena nenek itu juga percaya bahwa tak ada lelaki yang tidak menaksir gadis anak tukang kebo itu.
”Ah, si kirno kan pengecut, mbah”, ledek Jo.
”S-12, mbah” sergah kirno
”Apa itu?”

Kamis, 26 Juni 2008

SEMAR NGGUYU

landak terjang menyeruak/
menembus pagar malu/
menikam jantung kelakian/
robek kemuliaan palsu//

duryudana meradang/
bisma diam khidmat dengan waskita/
durna bimbang dalam ilmu/
aku lelah mencari//

ayalkan damai biru langit/
rendam pedang jadi bunga/
... landak terjang menyeruak/
telanjangi perong kedirian//

busur lemah menggantung/
lutut gemetar lemas/
arjuna tangisi kemenangan/
khrisna murka//

ringkih jiwaku menanggung pandum/
besar egoku lawan dunia/
landak terjang menyeruak/
semar ngguyu//

Jumat, 20 Juni 2008

semuanya akan baik-baik saja?

hening nan kejap itu mengalir/
lembut, terbawa maruta/
mungkar 'adam, ikut melarut/
sementara angin kembali mengendap, kering/
waktu tinggal sisa, pelengkap luka/
amarah temui wajahnya/
hah, betapa menyedihkannya AKU/

maafkan aku, nak!

kobeng 01


Meranalah! Karena hanya dengannya, pisau yang terasah titah zeus mampu melukai ulu hati,
dan membuatmu menangis //
Tak kurangi ketakjubanku atas sembilan puluh sembilan namanya, ingin kuentaskan sisa pujaku untukmu. tidak hanya atas sejarah yang begitu rigid kisah ini terlukis untukmu //
Tahuilah wanita! diamku adalah puja, dan pujaku adalah doa//

Sekian detik yang lalu aku masih memikirkan sebuah bayangan samar hitam yang berkelebat cepat tanpa jejak, menerobos dinding rumah, menembus rimbun bunga tanpa bunyi, lenyap. Ah, dialah endah. Dia, tiap hari selalu saja ada ketika berbelas yang lain selalu berganti penuhi isi jidatku. Adanya, seolah nada yang tak mungkin ’adam dalam sebuah kalimat datar sekalipun.

Tak ada yang salah denganya, hanya saja ia terlalu rigid. Aku lari mendekat atau menjauh, ia akan selalu tampak tersenyum dengan sahaja. Aku dibesarkan dalam kebersamaan dengannya. Ibunya adalah ibuku juga. Ibuku tak pernah bisa jadi ibunya. Permusuhan orang tua yang memusingkan, tak pernah kita tahu mulanya. Seperti itulah, tak pernah diketahui apakah permusuhan itu pernah, atau sudah berakhir. Ibuku hanya bilang bahwa keturunan mbah kasan (bapaknya ibu) tak akan pernah kawin dengan keturunan mbah nganten (bapaknya ibunya endah) sampai tujuh turunan. Sesungguhnya, tak pernah hal itu memusingkan kami, karena aku dan endah begitu asik melalui hari-hari kami dengan bermain tanpa menyadari bahwa kami kemudian harus membagi jiwa kami. Semuanya seolah telah dipastikan jauh sebelum kami sadar tentang rasa, atau jauh sebelum kakek kami mengumbar sumpah serapah itu, kami selalu saling membunuh jiwa kami sendiri.

Saat itu umurnya baru dua belas tahun, ketika dalam keterbuaian alam bebas dan kelelahan hati menunduk, kami menguburkan badan kami berdua dalam pasir. Kami pergi ke pantai sejak jam tiga sore. Karena sudah sangat biasa kami pergi berdua, tak ada yang kaget. Setelah tubuh menggigil dingin karena air laut dan angin senja, kami membakar beberapa kepiting yang berhasil kita tangkap. Alamiah saja, kami saling menghangatkan tubuh sementara tak ada kehendak untuk segera pulang.

Dengan dengungan angin yang kian kencang, kami kemudian coba beranikan diri untuk melanggar sumpah kakek kami. Kami saling keluhkan rasa. Sejak saat itulah, sore kuartikan keindahan. Setelah melewati masa berat itu, kami merasa tak ada lagi yang patut ditakutkan, karena menurut kami adalah takdir kami untuk saling membutuhkan.

Sebuah perlawanan harus diungkapkan, bahkan kalau bisa harus sedramatis mungkin biar semua orang melek, bahwa kami bukan boneka mainan. Seperti itulah pikiran sederhana yang sama sekali tak aneh dari kami. Sederhana saja, kami menggali pasir membuat lubang yang cukup untuk mengubur badan kami berdua sehingga kami bisa tetap hangat di tengah terjangan angin malam yang pasti lebih kejam. Terlintas juga pengandaian-pengandaian.

Kami salah satunya mengandaikan ditemukan oleh penduduk dalam keadaan seperti ini, mati. Kematian yang indah, tentunya, karena orang-orang akan menyebut kami benar-benar sehidup semati.
”Tapi, Ibumu pasti melabrak ibuku. Dalam benaknya, pastilah aku yang mengajakmu mati”, melanjutkan pengandaian.
”Pasti. Ibumu seperti biasa hanya akan menangis. Tapi setelah itu, bapakmu akan memaksa adu kanuragan dengan bapakku, seperti biasa”, jawabku
”Dan bapakmu hanya diam, meski benar-benar akan dicincang bapakku”, balas endah.
”Berarti, kita akan berkumpul dengan bapak”, kesimpulan yang cukup menjanjikan. Di hadapan bapakku, kami tak pernah merasa terganggu. Dialah sang pendiam yang ikhlas.
”Akan lebih sempurna jika ibuku ikut mati” harap endah, ”Tapi, siapa yang membunuhnya? Meskipun garang, ibumu tidak bisa melihat darah, apalagi membunuh”, sambung endah bingung sendiri.
”Itulah yang sulit. Tak ada yang mau membunuhnya”
Aku tak mau egois. Pengandaian seperti itu, meskipun indah, akan sedikit mengecewakan endah.
Ternyata tidur dengan gaya seperti itu adalah yang pertama kali kami lakukan, begitu sulit menghilangkan kesadaran. Namun semangat kami terlalu kuat daripada godaan angin untuk pulang. Kadang kepala dia tergeletak dengan manis di leherku. Sesungguhnya dalam tindihan pasir itu, tanganku melingkar di tubunnya, sementara tangannya di tubuhku.

Entah siapa yang mengakhiri obrolan kami, kami terbangun ketika matahari sudah cukup panas untuk membakar pasir. Yang sama sekali di luar perhitungan adalah orang tua kami yang sama sekali tidak khawatir, panik, atau marah. Kenapa? Yang kemudian kami ketahui bersama bahwa mereka terlalu yakin dengan keampuhan sumpah kakek kami.

Selayaknya bocah-bocah yang lain, hasrat melawan kami seringkali terkalahkan oleh kehendak baku orang tua yang punya kuasa lebih atas kami. Lupakan saja sesuatu yang indah tapi begitu rigid. Toh, tak ada yang menghalangi kami untuk terus mengulang malam-malam di pantai itu. Mereka menang karena kami selalu mengangguk, sementara kami hanya ingin menghabiskan masa-masa ini, seolah kakek belum bersumpah. Ah, kami enggan memikirkan tahun-tahun ke depan kala ia harus disandingkan dengan pria lain, atau kala aku harus bermalam sendiri di pantai itu.

Bukan orang tua jika tak punya rencana untuk anaknya. Atas segala keadaan yang semuanya irasional, endah di sekolahkan di SMP yang berada di bawah yayasan kristen. Tak ayal, ibuku kemudian memasukkan aku ke ponpes. Nistanya, aku kemudian menikmati duniaku. Kami sangat sulit bertemu. Begitulah skenario mereka, tak pernah melarang kami bersama, tapi menyetting kami untuk tidak lagi membangkang. Pertemuan adalah sesuatu yang sangat istimewa dan berharga. Ulangan tak pernah sama. Pendalaman makna selalu saja melahirkan kenikmatan yang luar biasa. Pantai adalah yang serba tahu tentang kami. Kami pedulikan keasrian alam desa kami, tapi kami tak mau jika itu dijadikan alasan bagi kita untuk selamanya statis. Petuah orang tua bukanlah sabda tuhan. Kami hanyalah dua keping kehendak yang tak mau dikekang.

Bertahun terlewati dengan semakin sedikit saja pantai mengubur badan kami. Kuputuskan ke luar dari segala kerumitan irasional ini. Bangku kuliah hanya sebuah alasan kecil untuk lari dari ketidakpastian janji amor. Ah, pernah kutanyakan kepada ibu tentang alasan kakek kasan hingga bersumpah serapah itu. Jawaban yang sama sekali tidak patut dijadikan alasan untuk saling tikam sekalipun. Mbah nganten sedang memandikan jago aduannya ketika dengan iseng kakek kasan mengeluhkan babonnya yang kemaren sore dikawini oleh jago itu. Ia sama sekali tidak membolehkan semua ayam babonnya kawin dan punya keturunan dari jago mbah nganten. Jago aduan, menurutnya, adalah penjahat, dan ia tak mau babonnya memiliki anak ayam penjahat.
Keluhan kakek kasan sangat melukai mbah nganten. Ia berujar, ”Dah miskin, sombong pula.”
Kakek kasan tak kalah gertak, ”Dari pada kaya tak punya otak”.
Ternyata, ucapnya itu tak berhenti, ”Bukan saja ayam, anakku tak kan kubolehkan berkahwin dengan anakmu sampai lima turunan.”
”Cih, siapa pula yang sudi. Tujuh turunan tak kubolehkan anakku menikah dengan anakmu.”, tantang mbah nganten.

Ah, seandainya saja tak perlu ego, kamipun tak akan semenderita begini.

Hargi diri, memang kadang harus dihargai terlalu mahal dari pada harga jiwa itu sendiri. Sementara, siapa yang bisa menaksir harga jiwa, anugrah tuhan yang kasih itu?

Rabu, 18 Juni 2008

nDRESULA

serahkan saja jantungmu
damaikan langit yang menghitam
sedikit saja engkau mengeluh, ribuan caci akan penuhi genderangmu

seekor gajah terlalu megah lewati rekah tanah basah
bukan untuk lari dari takut atau kejar mimpi nan muluk
hanya sebatas naluri atas bencana
larilah! atau pura-pura mati sajalah!
tapi jangan pernah menyerah!

oh, tuhan yang kasih! mengapa engkau begitu egaliter?
kenapa tak engkau tunjukkan kuasamu untuk kebenaran?
atau, kami hanyalah bualan bagong kala menghardik semar
: buih, tak membunuh

banyak yang bisa ditakutkan, memang
hakim bijak juga sering korup karena anak istri,
begitu juga polisi,
atau bupati

perubahan selalu butuhkan tumbal.
dan tumbal, selamanya, bukanlah sebuah jawaban.

yah, banyak yang bisa ditakutkan
lalu, berapa banyak yang bisa kau hindari?
tertawalah! hindari tangis di depan sinis mereka!
karena hanya ada dua pilihan : melawan atau jadi budak!

lingkar dunia adalah pucuk jarinya
bungkukkan badan, sembahlah!
jadilah pecundang!
karena itu yang mereka butuhkan.

hitung helai rambutmu, kala risau.
atau, bacalah ramalan bintang!
sebotol wisky mungkin bisa sedikit menentramkan.
atau shalatlah hingga jidat menghitam!
jangan pernah melawan!
jangan pernah membangkang!
jangan pernah berteriak!
kecuali engkau telah yakin bahwa mereka adalah musuh.

jangan bicala lagi tentang nilai
karena nilailah yang telah membuatmu menjadi budak.

ringankan langkahmu dengan hujjah
bahwa mereka pembunuh ratusan saudaramu,
... bahkan jutaan.
bahwa mereka rusak alammu,
... bahkan mereka menuduhmu.
bahwa mereka adalah musuh tuhan.
... bahwa engkau harus menghentikannya.

puluhan burung cawu kabarkan banjir
sesibuk kyai tua mainkan tasbih dengan dzikir
deru mesin tenggelamkan semuanya.
roda kapitalis matikan naluri
semua tangan harus bekerja untuknya

Kamis, 12 Juni 2008

KRET

hingga perjalanan ini ada di ujungnya/
hingga ujungnya kembali menjadi pangkal/
atau hingga ujung pangkal itu nihil dalam absurditasnya/
saya akan tetap mengaduh//

saya akan tetap mengaduh/
hingga beribu suara datang menghibur/
hingga sejuta lainnya diam dalam bosan/
hingga yang ada hanya labirin dalam labirin //
pada apa yang tengah dipertentangkan/
pada apa yang harus diperjuangkan/
enyahlah!//

enyahlah dalam bingkai kebisuan-nya/
sembunyilah diantara sebelas bintang yang redup/
atau tunaikanlah kemusnahanmu dengan bangga//

kau, dia, sama saja/
batu, pohon, angin, hujan, tetap menghina/
kalian, mereka, sama juga//

selama masih ada jiwa/
dalam ringkih raga yang keropos oleh dusta/
menjauhlah, bawa kembali senyum sengakmu//

jika rajanya adalah nurani/
atau harga diri jadi harga mati/
tiada tempatmu dalam relung hati/
dan tak perlu memaksakan untuk peduli/
karena peduli bukan hanya budi/
lebih jahat dari caci, penjajahan!!//

enyahlah!
dan saya akan tetap mengaduh!//

batas indah

bisa saja engkau lupa bahkan raja pandirpun kadang bijaksana pelawak kondang juga boleh berduka sebentuk cinta mewujud dalam seribu cinta...