landak terjang menyeruak/
menembus pagar malu/
menikam jantung kelakian/
robek kemuliaan palsu//
duryudana meradang/
bisma diam khidmat dengan waskita/
durna bimbang dalam ilmu/
aku lelah mencari//
ayalkan damai biru langit/
rendam pedang jadi bunga/
... landak terjang menyeruak/
telanjangi perong kedirian//
busur lemah menggantung/
lutut gemetar lemas/
arjuna tangisi kemenangan/
khrisna murka//
ringkih jiwaku menanggung pandum/
besar egoku lawan dunia/
landak terjang menyeruak/
semar ngguyu//
Kamis, 26 Juni 2008
Jumat, 20 Juni 2008
semuanya akan baik-baik saja?
hening nan kejap itu mengalir/
lembut, terbawa maruta/
mungkar 'adam, ikut melarut/
sementara angin kembali mengendap, kering/
waktu tinggal sisa, pelengkap luka/
amarah temui wajahnya/
hah, betapa menyedihkannya AKU/
maafkan aku, nak!
lembut, terbawa maruta/
mungkar 'adam, ikut melarut/
sementara angin kembali mengendap, kering/
waktu tinggal sisa, pelengkap luka/
amarah temui wajahnya/
hah, betapa menyedihkannya AKU/
maafkan aku, nak!
kobeng 01
Meranalah! Karena hanya dengannya, pisau yang terasah titah zeus mampu melukai ulu hati,
dan membuatmu menangis //
Tak kurangi ketakjubanku atas sembilan puluh sembilan namanya, ingin kuentaskan sisa pujaku untukmu. tidak hanya atas sejarah yang begitu rigid kisah ini terlukis untukmu //
Tahuilah wanita! diamku adalah puja, dan pujaku adalah doa//
Sekian detik yang lalu aku masih memikirkan sebuah bayangan samar hitam yang berkelebat cepat tanpa jejak, menerobos dinding rumah, menembus rimbun bunga tanpa bunyi, lenyap. Ah, dialah endah. Dia, tiap hari selalu saja ada ketika berbelas yang lain selalu berganti penuhi isi jidatku. Adanya, seolah nada yang tak mungkin ’adam dalam sebuah kalimat datar sekalipun.
Tak ada yang salah denganya, hanya saja ia terlalu rigid. Aku lari mendekat atau menjauh, ia akan selalu tampak tersenyum dengan sahaja. Aku dibesarkan dalam kebersamaan dengannya. Ibunya adalah ibuku juga. Ibuku tak pernah bisa jadi ibunya. Permusuhan orang tua yang memusingkan, tak pernah kita tahu mulanya. Seperti itulah, tak pernah diketahui apakah permusuhan itu pernah, atau sudah berakhir. Ibuku hanya bilang bahwa keturunan mbah kasan (bapaknya ibu) tak akan pernah kawin dengan keturunan mbah nganten (bapaknya ibunya endah) sampai tujuh turunan. Sesungguhnya, tak pernah hal itu memusingkan kami, karena aku dan endah begitu asik melalui hari-hari kami dengan bermain tanpa menyadari bahwa kami kemudian harus membagi jiwa kami. Semuanya seolah telah dipastikan jauh sebelum kami sadar tentang rasa, atau jauh sebelum kakek kami mengumbar sumpah serapah itu, kami selalu saling membunuh jiwa kami sendiri.
Saat itu umurnya baru dua belas tahun, ketika dalam keterbuaian alam bebas dan kelelahan hati menunduk, kami menguburkan badan kami berdua dalam pasir. Kami pergi ke pantai sejak jam tiga sore. Karena sudah sangat biasa kami pergi berdua, tak ada yang kaget. Setelah tubuh menggigil dingin karena air laut dan angin senja, kami membakar beberapa kepiting yang berhasil kita tangkap. Alamiah saja, kami saling menghangatkan tubuh sementara tak ada kehendak untuk segera pulang.
Dengan dengungan angin yang kian kencang, kami kemudian coba beranikan diri untuk melanggar sumpah kakek kami. Kami saling keluhkan rasa. Sejak saat itulah, sore kuartikan keindahan. Setelah melewati masa berat itu, kami merasa tak ada lagi yang patut ditakutkan, karena menurut kami adalah takdir kami untuk saling membutuhkan.
Sebuah perlawanan harus diungkapkan, bahkan kalau bisa harus sedramatis mungkin biar semua orang melek, bahwa kami bukan boneka mainan. Seperti itulah pikiran sederhana yang sama sekali tak aneh dari kami. Sederhana saja, kami menggali pasir membuat lubang yang cukup untuk mengubur badan kami berdua sehingga kami bisa tetap hangat di tengah terjangan angin malam yang pasti lebih kejam. Terlintas juga pengandaian-pengandaian.
Kami salah satunya mengandaikan ditemukan oleh penduduk dalam keadaan seperti ini, mati. Kematian yang indah, tentunya, karena orang-orang akan menyebut kami benar-benar sehidup semati.
”Tapi, Ibumu pasti melabrak ibuku. Dalam benaknya, pastilah aku yang mengajakmu mati”, melanjutkan pengandaian.
”Pasti. Ibumu seperti biasa hanya akan menangis. Tapi setelah itu, bapakmu akan memaksa adu kanuragan dengan bapakku, seperti biasa”, jawabku
”Dan bapakmu hanya diam, meski benar-benar akan dicincang bapakku”, balas endah.
”Berarti, kita akan berkumpul dengan bapak”, kesimpulan yang cukup menjanjikan. Di hadapan bapakku, kami tak pernah merasa terganggu. Dialah sang pendiam yang ikhlas.
”Akan lebih sempurna jika ibuku ikut mati” harap endah, ”Tapi, siapa yang membunuhnya? Meskipun garang, ibumu tidak bisa melihat darah, apalagi membunuh”, sambung endah bingung sendiri.
”Itulah yang sulit. Tak ada yang mau membunuhnya”
Aku tak mau egois. Pengandaian seperti itu, meskipun indah, akan sedikit mengecewakan endah.
Ternyata tidur dengan gaya seperti itu adalah yang pertama kali kami lakukan, begitu sulit menghilangkan kesadaran. Namun semangat kami terlalu kuat daripada godaan angin untuk pulang. Kadang kepala dia tergeletak dengan manis di leherku. Sesungguhnya dalam tindihan pasir itu, tanganku melingkar di tubunnya, sementara tangannya di tubuhku.
Entah siapa yang mengakhiri obrolan kami, kami terbangun ketika matahari sudah cukup panas untuk membakar pasir. Yang sama sekali di luar perhitungan adalah orang tua kami yang sama sekali tidak khawatir, panik, atau marah. Kenapa? Yang kemudian kami ketahui bersama bahwa mereka terlalu yakin dengan keampuhan sumpah kakek kami.
Selayaknya bocah-bocah yang lain, hasrat melawan kami seringkali terkalahkan oleh kehendak baku orang tua yang punya kuasa lebih atas kami. Lupakan saja sesuatu yang indah tapi begitu rigid. Toh, tak ada yang menghalangi kami untuk terus mengulang malam-malam di pantai itu. Mereka menang karena kami selalu mengangguk, sementara kami hanya ingin menghabiskan masa-masa ini, seolah kakek belum bersumpah. Ah, kami enggan memikirkan tahun-tahun ke depan kala ia harus disandingkan dengan pria lain, atau kala aku harus bermalam sendiri di pantai itu.
Bukan orang tua jika tak punya rencana untuk anaknya. Atas segala keadaan yang semuanya irasional, endah di sekolahkan di SMP yang berada di bawah yayasan kristen. Tak ayal, ibuku kemudian memasukkan aku ke ponpes. Nistanya, aku kemudian menikmati duniaku. Kami sangat sulit bertemu. Begitulah skenario mereka, tak pernah melarang kami bersama, tapi menyetting kami untuk tidak lagi membangkang. Pertemuan adalah sesuatu yang sangat istimewa dan berharga. Ulangan tak pernah sama. Pendalaman makna selalu saja melahirkan kenikmatan yang luar biasa. Pantai adalah yang serba tahu tentang kami. Kami pedulikan keasrian alam desa kami, tapi kami tak mau jika itu dijadikan alasan bagi kita untuk selamanya statis. Petuah orang tua bukanlah sabda tuhan. Kami hanyalah dua keping kehendak yang tak mau dikekang.
Bertahun terlewati dengan semakin sedikit saja pantai mengubur badan kami. Kuputuskan ke luar dari segala kerumitan irasional ini. Bangku kuliah hanya sebuah alasan kecil untuk lari dari ketidakpastian janji amor. Ah, pernah kutanyakan kepada ibu tentang alasan kakek kasan hingga bersumpah serapah itu. Jawaban yang sama sekali tidak patut dijadikan alasan untuk saling tikam sekalipun. Mbah nganten sedang memandikan jago aduannya ketika dengan iseng kakek kasan mengeluhkan babonnya yang kemaren sore dikawini oleh jago itu. Ia sama sekali tidak membolehkan semua ayam babonnya kawin dan punya keturunan dari jago mbah nganten. Jago aduan, menurutnya, adalah penjahat, dan ia tak mau babonnya memiliki anak ayam penjahat.
Keluhan kakek kasan sangat melukai mbah nganten. Ia berujar, ”Dah miskin, sombong pula.”
Kakek kasan tak kalah gertak, ”Dari pada kaya tak punya otak”.
Ternyata, ucapnya itu tak berhenti, ”Bukan saja ayam, anakku tak kan kubolehkan berkahwin dengan anakmu sampai lima turunan.”
”Cih, siapa pula yang sudi. Tujuh turunan tak kubolehkan anakku menikah dengan anakmu.”, tantang mbah nganten.
Ah, seandainya saja tak perlu ego, kamipun tak akan semenderita begini.
Hargi diri, memang kadang harus dihargai terlalu mahal dari pada harga jiwa itu sendiri. Sementara, siapa yang bisa menaksir harga jiwa, anugrah tuhan yang kasih itu?
Rabu, 18 Juni 2008
nDRESULA
serahkan saja jantungmu
damaikan langit yang menghitam
sedikit saja engkau mengeluh, ribuan caci akan penuhi genderangmu
seekor gajah terlalu megah lewati rekah tanah basah
bukan untuk lari dari takut atau kejar mimpi nan muluk
hanya sebatas naluri atas bencana
larilah! atau pura-pura mati sajalah!
tapi jangan pernah menyerah!
oh, tuhan yang kasih! mengapa engkau begitu egaliter?
kenapa tak engkau tunjukkan kuasamu untuk kebenaran?
atau, kami hanyalah bualan bagong kala menghardik semar
: buih, tak membunuh
banyak yang bisa ditakutkan, memang
hakim bijak juga sering korup karena anak istri,
begitu juga polisi,
atau bupati
perubahan selalu butuhkan tumbal.
dan tumbal, selamanya, bukanlah sebuah jawaban.
yah, banyak yang bisa ditakutkan
lalu, berapa banyak yang bisa kau hindari?
tertawalah! hindari tangis di depan sinis mereka!
karena hanya ada dua pilihan : melawan atau jadi budak!
lingkar dunia adalah pucuk jarinya
bungkukkan badan, sembahlah!
jadilah pecundang!
karena itu yang mereka butuhkan.
hitung helai rambutmu, kala risau.
atau, bacalah ramalan bintang!
sebotol wisky mungkin bisa sedikit menentramkan.
atau shalatlah hingga jidat menghitam!
jangan pernah melawan!
jangan pernah membangkang!
jangan pernah berteriak!
kecuali engkau telah yakin bahwa mereka adalah musuh.
jangan bicala lagi tentang nilai
karena nilailah yang telah membuatmu menjadi budak.
ringankan langkahmu dengan hujjah
bahwa mereka pembunuh ratusan saudaramu,
... bahkan jutaan.
bahwa mereka rusak alammu,
... bahkan mereka menuduhmu.
bahwa mereka adalah musuh tuhan.
... bahwa engkau harus menghentikannya.
puluhan burung cawu kabarkan banjir
sesibuk kyai tua mainkan tasbih dengan dzikir
deru mesin tenggelamkan semuanya.
roda kapitalis matikan naluri
semua tangan harus bekerja untuknya
damaikan langit yang menghitam
sedikit saja engkau mengeluh, ribuan caci akan penuhi genderangmu
seekor gajah terlalu megah lewati rekah tanah basah
bukan untuk lari dari takut atau kejar mimpi nan muluk
hanya sebatas naluri atas bencana
larilah! atau pura-pura mati sajalah!
tapi jangan pernah menyerah!
oh, tuhan yang kasih! mengapa engkau begitu egaliter?
kenapa tak engkau tunjukkan kuasamu untuk kebenaran?
atau, kami hanyalah bualan bagong kala menghardik semar
: buih, tak membunuh
banyak yang bisa ditakutkan, memang
hakim bijak juga sering korup karena anak istri,
begitu juga polisi,
atau bupati
perubahan selalu butuhkan tumbal.
dan tumbal, selamanya, bukanlah sebuah jawaban.
yah, banyak yang bisa ditakutkan
lalu, berapa banyak yang bisa kau hindari?
tertawalah! hindari tangis di depan sinis mereka!
karena hanya ada dua pilihan : melawan atau jadi budak!
lingkar dunia adalah pucuk jarinya
bungkukkan badan, sembahlah!
jadilah pecundang!
karena itu yang mereka butuhkan.
hitung helai rambutmu, kala risau.
atau, bacalah ramalan bintang!
sebotol wisky mungkin bisa sedikit menentramkan.
atau shalatlah hingga jidat menghitam!
jangan pernah melawan!
jangan pernah membangkang!
jangan pernah berteriak!
kecuali engkau telah yakin bahwa mereka adalah musuh.
jangan bicala lagi tentang nilai
karena nilailah yang telah membuatmu menjadi budak.
ringankan langkahmu dengan hujjah
bahwa mereka pembunuh ratusan saudaramu,
... bahkan jutaan.
bahwa mereka rusak alammu,
... bahkan mereka menuduhmu.
bahwa mereka adalah musuh tuhan.
... bahwa engkau harus menghentikannya.
puluhan burung cawu kabarkan banjir
sesibuk kyai tua mainkan tasbih dengan dzikir
deru mesin tenggelamkan semuanya.
roda kapitalis matikan naluri
semua tangan harus bekerja untuknya
Kamis, 12 Juni 2008
KRET
hingga perjalanan ini ada di ujungnya/
hingga ujungnya kembali menjadi pangkal/
atau hingga ujung pangkal itu nihil dalam absurditasnya/
saya akan tetap mengaduh//
saya akan tetap mengaduh/
hingga beribu suara datang menghibur/
hingga sejuta lainnya diam dalam bosan/
hingga yang ada hanya labirin dalam labirin //
pada apa yang tengah dipertentangkan/
pada apa yang harus diperjuangkan/
enyahlah!//
enyahlah dalam bingkai kebisuan-nya/
sembunyilah diantara sebelas bintang yang redup/
atau tunaikanlah kemusnahanmu dengan bangga//
kau, dia, sama saja/
batu, pohon, angin, hujan, tetap menghina/
kalian, mereka, sama juga//
selama masih ada jiwa/
dalam ringkih raga yang keropos oleh dusta/
menjauhlah, bawa kembali senyum sengakmu//
jika rajanya adalah nurani/
atau harga diri jadi harga mati/
tiada tempatmu dalam relung hati/
dan tak perlu memaksakan untuk peduli/
karena peduli bukan hanya budi/
lebih jahat dari caci, penjajahan!!//
enyahlah!
dan saya akan tetap mengaduh!//
hingga ujungnya kembali menjadi pangkal/
atau hingga ujung pangkal itu nihil dalam absurditasnya/
saya akan tetap mengaduh//
saya akan tetap mengaduh/
hingga beribu suara datang menghibur/
hingga sejuta lainnya diam dalam bosan/
hingga yang ada hanya labirin dalam labirin //
pada apa yang tengah dipertentangkan/
pada apa yang harus diperjuangkan/
enyahlah!//
enyahlah dalam bingkai kebisuan-nya/
sembunyilah diantara sebelas bintang yang redup/
atau tunaikanlah kemusnahanmu dengan bangga//
kau, dia, sama saja/
batu, pohon, angin, hujan, tetap menghina/
kalian, mereka, sama juga//
selama masih ada jiwa/
dalam ringkih raga yang keropos oleh dusta/
menjauhlah, bawa kembali senyum sengakmu//
jika rajanya adalah nurani/
atau harga diri jadi harga mati/
tiada tempatmu dalam relung hati/
dan tak perlu memaksakan untuk peduli/
karena peduli bukan hanya budi/
lebih jahat dari caci, penjajahan!!//
enyahlah!
dan saya akan tetap mengaduh!//
Langganan:
Postingan (Atom)
batas indah
bisa saja engkau lupa bahkan raja pandirpun kadang bijaksana pelawak kondang juga boleh berduka sebentuk cinta mewujud dalam seribu cinta...
-
Serrr... bunyi gesekan rimbun daun pohon bambu sesekali diselingi bunyi derit batangnya yang bergesek. Tupai-tupai kecil meloncat lincah, s...
-
sepertinya jika bisa menawar kodrat karang tua juga ingin jauh dari serbuan ombak atau, ombakpun ingin berhenti menerjang karang tua tapi...
-
jika yang tertunggak hanya janji mungkin iblis akan mencium damai surgawi mungkin lalat bisa disukai sang dewi tapi ini lebih agung dari ...