hingga perjalanan ini ada di ujungnya/
hingga ujungnya kembali menjadi pangkal/
atau hingga ujung pangkal itu nihil dalam absurditasnya/
saya akan tetap mengaduh//
saya akan tetap mengaduh/
hingga beribu suara datang menghibur/
hingga sejuta lainnya diam dalam bosan/
hingga yang ada hanya labirin dalam labirin //
pada apa yang tengah dipertentangkan/
pada apa yang harus diperjuangkan/
enyahlah!//
enyahlah dalam bingkai kebisuan-nya/
sembunyilah diantara sebelas bintang yang redup/
atau tunaikanlah kemusnahanmu dengan bangga//
kau, dia, sama saja/
batu, pohon, angin, hujan, tetap menghina/
kalian, mereka, sama juga//
selama masih ada jiwa/
dalam ringkih raga yang keropos oleh dusta/
menjauhlah, bawa kembali senyum sengakmu//
jika rajanya adalah nurani/
atau harga diri jadi harga mati/
tiada tempatmu dalam relung hati/
dan tak perlu memaksakan untuk peduli/
karena peduli bukan hanya budi/
lebih jahat dari caci, penjajahan!!//
enyahlah!
dan saya akan tetap mengaduh!//
Kamis, 12 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
batas indah
bisa saja engkau lupa bahkan raja pandirpun kadang bijaksana pelawak kondang juga boleh berduka sebentuk cinta mewujud dalam seribu cinta...
-
Serrr... bunyi gesekan rimbun daun pohon bambu sesekali diselingi bunyi derit batangnya yang bergesek. Tupai-tupai kecil meloncat lincah, s...
-
sepertinya jika bisa menawar kodrat karang tua juga ingin jauh dari serbuan ombak atau, ombakpun ingin berhenti menerjang karang tua tapi...
-
jika yang tertunggak hanya janji mungkin iblis akan mencium damai surgawi mungkin lalat bisa disukai sang dewi tapi ini lebih agung dari ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar