kemudian semuanya mengeluh,
ketidakadilan mereka kuak
dengan tetap jentikkan kelingking kepadaku
selama yang bisa kau ingat
kapan dengar keluhku
selama yang kau bisa lihat
kapan ku membencimu
demi sebuah jawaban yang terancam kemunafikan
aku memang munafik
demi kemesraan yang semukan pahit hidup
aku tetap butuhkanmu
mengeluhlah dengan sempurna
retakkan langit putih tak berdosa
teriaklah sepuasmu semaumu
runtuhkan arca lingga-nya siwa
hanya satu pesan untukmu, sayang
’jangan di telingaku!’
Selasa, 29 Juli 2008
Selasa, 08 Juli 2008
Kobeng 02
Serrr... bunyi gesekan rimbun daun pohon bambu sesekali diselingi bunyi derit batangnya yang bergesek. Tupai-tupai kecil meloncat lincah, seolah ingin pastikan bahwa ini adalah dunia mereka. Sang ibu tupai nyenyak tertidur di bantalan daun yang ia rangkai sedemikian indahnya, tak takut anaknya jatuh tergelincir atau tertembak pemburu. Tak ada pemburu. Manusia tak butuh protein dari tupai yang hanya ingin sekedar hidup...tak mengganggu. Siulan angin siang semakin mesra mencumbu rumpun-rumpun bambu yang tumbuh bebas di hampir seluruh halaman belakang penduduk desa. Tak perlu merawat rumpun-rumpun itu, biarkan saja dan jangan tamak, niscaya ia akan selalu memberikan segala apa yang dibutuhkan.
Jarak antar rumah adalah jalan. Tak ada pagar seperti di kota yang dibangun untuk menghalangi orang lain masuk atau sekedar melihat. Rumah dibangun bukan untuk sebuah pameran atau kontes sosial. Rumah bukan sesuatu yang haram dimasuki oleh orang lain, apalagi untuk bersantai melepas lelah. Rumah bukanlah tempat sembunyi dari kerja bhakti atau musyawarah. Tegur sapa akan selalu kita temui jika ada sebuah papasan yang sangat singkat sekalipun. Kebutuhan untuk saling bersapa adalah sesuatu yang kemudian dianggap sebagai sampah oleh masyarakat kota karena tak layak membuang waktu tanpa menghasilkan uang. Mungkin bagi mereka, uang hanyalah lembaran kertas yang kemudian disepakati bersama sebagai alat tukar, bukan sesuatu yang bisa membentak bahkan arogan melebihi presiden amerika serikat. Seolah mereka adalah masyarakat yang pernah mengenyam kejayaan sekian abad, mereka melakukan demistifikasi uang. Tak perlu uang untuk sekedar mendapatkan bambu, kayu, pasir, atau baju. Bayar SPP anak sekolah mereka bisa menggunakan beras, nangka, atau kejujuran.
Di sebuah siang yang terik, wangi panas pesisir semai keheningan. Tejo sudah bisa mengatasi keringatnya. Selepas shalat subuh tadi dia langsung mencangkul sawah hingga bengkek menyuruhnya berhenti. Musim hujan mudah-mudahan akan segera tiba. Jika saja bukan tahun yang buruk, sekarang adalah waktu panen. Tapi, tak layak mengeluh di sini. Tuhan adalah pengasih. Makan tak harus nasi. Bahkan hidup tak harus makan bukan?
Tuhan adalah pengatur yang santun. Akan selalu menghadirkan sesuatu yang lain kala menghentikan yang biasa. Bermandi keringat bukan hal yang jorok di sini. Engkau harus berkeringat, walau apa yang diharap jauh dari yang akan didapat. Walau, kemushilan selalu mengiringi keniscayaan. Bekerja bukan untuk sebuah gengsi atau atas nama kebutuhan yang akan selalu lebih. Bekerja adalah wujud eksistensi diri, dan obat jiwa atas segala penjara dunia. Sepoi angin hilir mudik tak bosan merayu Tejo untuk sekejap memicingkan mata. Toh, tak ada lagi yang harus dikerjakan karena tak ada yang memang mengharuskan. Ia memilih masuk ke dapur untuk menyeduh kopi. Kiranya hubungan kopi dan Tejo atau orang yang lain adalah sangat dekat dan mesra, beriringan membentuk rantai waktu indah diselingi lengkingan takdir yang seolah ajeg.
Kirno memanggil lantang, ” jo,.. kopi dong!”. Ia tak peduli kala Tejo tak menyahut karena kursi panjang dari bambu kuning menggodanya untuk merebah : luruskan punggung, alirkan sesuatu yang setengah harian tersumbat. Dengan sedikit menendang tangan kirno yang menghalangi pintu, Tejo keluar membawa dua gelas kopi hitam. Satu gelas, hitamnya begitu kelam, sedang satunya lagi sedikit kecoklatan. Kirno memang suka ngopi juga, tapi tak kental karena akan aneh jika dia tidak suka dengan kopi. Kemudian mereka asik melinting tembakau. Asap putih mengebul. Kedua hidung mereka bak cerobong asap, membentuk lengkungan yang tak pernah bosan naik walau berantakan. Memang tak perlu sebuah kesatuan, jika hanya ingin melakoni kodrat.
”Bagaimana halnya jika hujan tidak jadi turun?” tanya Jo berbarengan dengan keberhasilan kopi membuat otak kepyar.
”Lalu, apa yang bisa kita lakukan?”, tak kalah Kirno membulat-bulatkan asap rokok, ”Apakah engkau memimpikan Branjang Ratus yang mencuri payung kyai udan riwis dan mendatangkan hujan?”
”Hus, ndak baik melangkahi takdir”, semprot jo
”Lah, manungsa kan wajib ikhtiar, jo.”
”Sepakat. Tapi jangan sampai motong-motong sunnatullah”
”Tur ora nyandak, jo..jo. kaya penginyongan ukur bisa ngarep-arep thok.”
Perubahan adalah keniscayaan.
”Nderek langkung”, seorang nenek lewat.
”Mangga”, jawab mereka serempak, seserempak mereka menurunkan kaki mereka yang melintang ke teras.
”Beres, mbah?”, tanya Kirno sok tahu.
”Beres”, jawab nenek, ”Itu Warni sedang sangga uang sendirian” sembari telunjuknya mengarah ke kebelakang, tentu menunjuk ke arah rumah Warni.
Bukan sebab nenek itu tahu betul bahwa Tejo sangat menyukai Warni, namun lebih karena nenek itu juga percaya bahwa tak ada lelaki yang tidak menaksir gadis anak tukang kebo itu.
”Ah, si kirno kan pengecut, mbah”, ledek Jo.
”S-12, mbah” sergah kirno
”Apa itu?”
Langganan:
Postingan (Atom)
batas indah
bisa saja engkau lupa bahkan raja pandirpun kadang bijaksana pelawak kondang juga boleh berduka sebentuk cinta mewujud dalam seribu cinta...
-
Serrr... bunyi gesekan rimbun daun pohon bambu sesekali diselingi bunyi derit batangnya yang bergesek. Tupai-tupai kecil meloncat lincah, s...
-
sepertinya jika bisa menawar kodrat karang tua juga ingin jauh dari serbuan ombak atau, ombakpun ingin berhenti menerjang karang tua tapi...
-
jika yang tertunggak hanya janji mungkin iblis akan mencium damai surgawi mungkin lalat bisa disukai sang dewi tapi ini lebih agung dari ...