Sabtu, 25 September 2010

mangkir

hujan tak tahu musim
musim tak kenal bumi
mungkin mulut akan menyungging
di dalam sini akan tetap membiru

jika itu harusnya
tak ada yang bisa mencegah gempa
silahkan saja,
dan mulut mungkin akan menyungging lagi

sepercik asih cukup tenangkan hati
seikat asuh terdamba
yangdipertuan tiada mengiba

cukupkan dengan apa yang ada di langit
ringkaskan dengan doa
yangdipertuan tiada terharap

kecewa hanya nafsu rendah
meski harusnya embun tempel daun di subuh
tapi, biarlah kecewa meraja barang sekejap
hingga terbedakan dari yang sewajarnya

tunjuk 1 vonis untukku
akulah si mangkir

Selasa, 07 September 2010

SUNGKAN dan MANGKIR (1)


Namanya Ahmad Subekti, anak seorang guru SD. Saking baktinya kepada orang tua, ia kupanggil Sungkan. Banyak yang ia korbankan demi menuruti kata orang tua, tapi ia tak mengeluhkannya padahal aku sering berteriak-teriak di kupingnya, ”Jadilah laki-laki, Sungkan!” Aku memang tak mengerti kenapa harus seperti itu, mungkin karena aku tidak dibesarkan dengan tetek bengek sopan santun. Mestinya dengan ijazah STM listrik dan kecakapannnya, ia melancong. Aku yakin, ia cepat mendapatkan pekerjaan dan sukses. Sukses, bebas dari kungkungan orang tuanya. Tidak sepertiku yang tak punya alasan untuk pergi dari kampung ini, aku sudah bebas. Tak ada yang berani menegurku apalagi bapakku.

Pernah terpikir olehku, jangan-jangan ia benar, “Bahagiaku ada dalam pengabdianku.” Benarkah ia ikhlas? Benarkah ia bahagia? Ia hanya bocah sepertiku yang belum waktunya memikirkan akhirat, masa muda adalah masa berhura-hura bukan? Pertemanan kami sangat dekat dan dalam, namun ia tak pernah bersamaku saat aku nenggak alkohol. Entah kenapa, setahuku ia juga tak terlalu pintar sholat. Memang kami beda, aku baginya terlalu kasar dan dia bagiku terlalu lembek, tapi kami tetap berteman.

Sesungguhnya aku iri dengan keadaannya. Ia tak pernah dibentak-bentak, apalagi membentak. Semua yang dibutuhkan disediakan bapaknya, Pak Sudir. Ibunya selalu membangga-banggakannya dalam setiap kerumunan ibu-ibu. Jauh dengan keadaanku, ibuku seakan selalu ingkari kenyataan bahwa aku adalah anaknya. Tapi tidak! Ia tetap punya jiwa yang selalu ingin bebas dari segala macam kekangan, “Kasihan Sungkan!”

Seminggu terakhir, ada yang berubah dari dirinya. Ia kini berani berpuisi. Padahal jangankan seperti itu, untuk membacakan puisi-puisi yang ada di buku, dulu ia tak pernah mau. “Aku tak bisa!”, teriaknya mengakhiri desakanku. Bukan hanya itu, kini ia berpuisi di depanku untuk wanita yang ada di sampingnya. Lebih gila lagi, wanita itu bukanlah sekedar cantik, tapi Rahmah. Awalnya aku heran, apa yang bisa membuatnya berubah dan berlaku kurang ajar seperti itu kepadaku? pernahkah aku berpuisi di depannya untuk wanita di sampingku? Untuk kemudian aku marah kala dia dengan entengnya berkata kepadaku, “Jadilah laki-laki, Kir!”. Namaku Irwan, tapi ia memanggilku Mangkir, karena baginya aku terlalu banyak mengeluh dan memberontak. Mestinya ia tahu, Rahmah yang selalu bersamanya kini adalah mantan calon kekasihku, pantaskah ia seperti itu? Lagi pula, apa indahnya puisi-puisi buatannya hingga Rahmah selalu memerah bahkan kadang menggigit bibir menahan senyum. Oh jiwa yang malang saat subuh tiba, walaupun wanita itu juga jahat (karena menolakku) tapi memang benar-benar manis. Sepasang bola matanya redup tapi menggairahkan. Rambutnya yang sebatas bahu ikal berikal rapih, menguatkan karekternya. Kulit, rangkaian tulang, dan sedikit daging di beberapa tempat membentuk setubuh ramping kerempeng nan indah yang membalut jiwa putih yang selalu meluapkan kasihnya. Oh, kasihan Mangkir!

Hidup memang aneh. Orang tua Sungkan menyetujui hubungan mereka. Padahal Pak Brata, bapaknya Rahmah, selain berprofesi sebagai kades juga sebagai rentenir yang sangat kejam. Pak Maman yang rumahnya di samping rumahku, dulunya, adalah seorang pedagang hasil bumi yang sukses. Ia mulai bangkrut setelah dengan terpaksa meminjam uang kepada Pak Brata setahun yang lalu. Kini, ia hanya memiliki sepetak tanah tempat rumah kecilnya berdiri miring dan ia sekarang harus menjadi buruh angkut cerabutan. Ada apa dengan Pak Sudir, Sungkan dan Ibunya? Di mana prinsip mereka? Lalu apa arti nilai-nilai yang mereka junjung selama ini? “Cinta adalah prinsip sekaligus nilai yang kami junjung, Kir”, jawabnya suatu kali. Oh, kembali aku tak mengerti, tapi harus mengangguk atas nama persahabatan. Tapi, sudahlah! Aku tak punya waktu lagi untuk menyesalinya. Setengah bulan lagi mereka menikah.

Bukan sebuah kebetulan jika hari itu aku malas beranjak dari kamar, selain gerimis, aku ingat bahwa Sungkan akan datang membawa surat undangan pernikahan seperti janjinya kemarin. Namun, wangi tanah kering yang diguyur lembut butiran-butiran gerimis itu terus menggodaku untuk menyeduh kopi dan menikmati hari yang jarang terjadi. Seolah alam hendak mengajarkan tentang kesempurnaan arti sebuah pengharapan: wangi, indah, dan penuh luka. Berulang kuperankan aku sebagai Sungkan yang akan menikahi Rahmah. Sungguh tak ada bayangan yang memuaskanku karena Sungkan selalu kembali merebut perannya dan mengingatkanku sebagai Mangkir. Kopi, rokok, gerimis, wangi tanah adalah paduan yang sangat sempurna: indah-menyedihkan. Kutiupkan asap rokokku dengan lepas. Ia merangkak naik ke langit dengan gontai, berserakan, dan membentuk beraian rambut Rahmah, ikal-berikal. Kini, kutiupkan dengan tenaga untuk memastikan bahwa ia tidak akan meledekku, berjalan dengan biasa-biasa saja, lurus. Tapi ini memang hari yang menyedihkan, asap rokokku terus menampilkan beraian rambut Rahmah.

Hari itu tiba jua, Minggu 29 mei 1999. Rumah pak Brata telah ramai oleh tamu undangan. Orang-orang sudah dan terus berdatangan. Maklum, tentu banyak yang berkepentingan dengan Pak Brata lewat acara pernikahan putrinya. Namun, sepandai-pandainya berpura, tetap saja keganjilan demi keganjilan terlihat begitu menyeramkan. Sangat menyedihkan. Janur kuning yang menghias gapura rumah besar itu terlalu layu untuk menggambarkan suasana semarak. Tak ada panggung. Belum lagi tiadanya pengeras suara, membuat suasana di sini tak lebih riuh dari sebuah rapat keluarga kecil. Tentu bukan sifat Pak Brata untuk membuat acara pernikahan putrinya dengan kesederhanaan dan kesenyapan seperti ini. Lihatlah! Mukaku pun lebih dewasa hari ini, aku tak mampu bicara, tertawa, apalagi berpuisi. Aku hanya memeluk Sungkan tanpa mampu memberi selamat ketika kami bertemu tadi.

Beberapa saat kemudian terdengar suara membangunkan lamunanku. Aku yakin, itulah suara penghulu. Apa yang sedang mereka pertaruhkan? Tak cukupkah penderitaan Sungkan? Begitu egoiskah Pak Brata hingga tetap memaksakan pernikahan ini? Adakah yang diuntungkan dengan ini? Aku pun telah menyesal dengan kecemburuanku, demi Tuhan! Sungguh sebuah suasana mengharukan yang tak kutemukan alasan masuk akal untuk terjadinya, ataukah aku terlalu banyak mengeluh? Tidak! Mereka pun mengucurkan air mata tanpa bisa menahannya.

Atas nama adat dan kepercayaan orang-orang tua di kampung, pernikahan mereka harus tetap dilangsungkan meski langsung diikuti acara pemakaman sang pengantin putri, Rahmah. Rahmah memang terlalu teliti, dan selalu ingin mengurus semua hal sendiri. Begitulah, sehari sebelum tanggal yang ditentukan, Rahmah diantar seorang pembantu tengah dalam perjalanan ke toko parfum untuk mengharumkan kamar pengantinnya, saat sebuah truk menabraknya. Ia meninggal di rumah sakit, di pelukan Sungkan tepatnya. Sementara pembantunya masih dirawat. Tidak! Ini sangat menyakitkan. Tapi, aku dan mungkin sebagian besar yang lain hanya bisa ikut dengan harapan membesarkan hati Sungkan. Inilah pernikahan paling hikmat yang pernah aku saksikan yang mampu membisukan otakku.

Selang sehari setelahnya, Sungkan ditemukan tergeletak tak bernyawa di kamarnya. Sebotol obat nyamuk cair tergeletak tanpa isi. Sungkan menelan cairan itu untuk menyempurnakan kisah tragis ini.

batas indah

bisa saja engkau lupa bahkan raja pandirpun kadang bijaksana pelawak kondang juga boleh berduka sebentuk cinta mewujud dalam seribu cinta...